Posted by: eureka | May 17, 2008

Ke Bangkok via Medan

Sekali lagi Wisata Kuliner Jalansutra melakukan acara jalan-jalan dan makan-makan. Kali ini ke Medan-Penang-Hatyai-Bangkok. Kok susah amat? Kan bisa terbang langsung ke Bangkok? Ya, memang yang susah itulah ciri Jalansutra. Bukan gampangan!


Ide dasarnya adalah agar kami mengunjungi setidaknya satu tempat di dalam negeri sebelum ’melangkah’ ke luar negeri. Dalam Deklarasi Jalansutra, kami berikrar mempergiat jalan-jalan di tanah air.


Rute yang kami tempuh memang mempunyai tingkat kesulitan lebih tinggi, dan membuatnya lebih mahal karena kami memakai tiket yang sepotong-sepotong (one-way sectors). Untungnya, Garuda Indonesia memberi sedikit keringanan. Dari Medan kami harus naik ferry selama lima jam untuk mencapai Penang, dan kemudian naik bus tiga jam dari Penang ke Hatyai. Tiket ’sepotong’ Hatyai-Bangkok dengan Thai Air juga mahal jatuhnya.


Semula sempat tercatat 28 peserta. Tetapi, tiga orang batal karena kedukaan. Dua orang mendadak harus berkunjung ke Jerman. Dan dua orang karena alasan kesehatan. Dari yang berangkat, terdapat sepuluh orang die hard JS-ers yang sudah pernah ikut Wisata Kuliner sebelumnya: keluarga Natalia, Bob, dan Senta Lokas; suami-istri Steve Gunadi dan Anne Lukardi, suami-istri Rudy Sujanto dan Erni Sulistiyana, Andi Mukhsia, Sri Nazulina Budiningsih, dan Yvonne.


Di Medan, selain mengunjungi Istana Sultan Maimoon yang membuat kami sedih karena melihatnya tak terurus, tentu saja kami mencicipi berbagai hidangan khas Medan. Setelah check in di hotel, kami langsung pergi makan siang ke ”Soto Medan” di Jalan Sungai Deli. Murah, dan sungguh lezat. Yang sempat mencicipi rempeyek udang tak habis-habisnya memuji kegurihan gimbal udang yang renyah itu.


Setelah makan siang, kami juga singgah di Jalan Kalimantan atas usul Lokas yang kelahiran Medan. Rujak buah di tempat itu memang unforgettable baginya. Beberapa di antara kami sempat mencicipi es lohankuo dan kuilingkau. Sate padang di tempat itu sangat unik, karena punya sate ayam dan sate kerang.


Malamnya kami makan malam dua kali. Dua orang JS-ers Medan, Sisca dan Armand datang untuk meramaikan acara. Semula, rencananya adalah melihat-lihat dulu di Kesawan Square, sebelum kemudian makan ’benar’ di sekitar Jalan Semarang dan Selat Panjang. Tetapi, kami terlanjur ’kesetrum’ melihat tawaran hidangan di Kesawan.


Tiga di antara kami bahkan sempat memesan sumsum sapi dalam tulang lutut sapi yang berkolesterol tinggi. Juice terong belanda juga menjadi minuman favorit kami.


Di Jalan Semarang, tak jauh dari hotel, serombongan tiba-tiba ’memisahkan diri’ untuk makan durian. Ternyata, setelah makan durian, ada berbagai jajanan yang sempat dicicipi. Tidak puas sampai di situ, mereka ternyata juga berhenti di kedai penjual bubur Tiociu yang khas. Ampun!


Paginya, 12 di antara kami memutuskan untuk tidak sarapan di hotel. Ramai-ramai kami naik beca motor beriringan menuju kedai bihun bebek ”Kumango”. Persinggahan singkat di Medan harus penuh kesan, begitu barangkali pikiran mereka. Supaya tidak terlewatkan, kami juga memesan nasi bungkus dari Rumah Makan ”Garuda” yang legendaris, untuk dimakan dalam perjalanan ferry ke Penang, Malaysia.


Di Penang kami ’disambut’ oleh empat orang JS-ers Malaysia: Lily Choo, Merce, Yenny, dan Lina, masing-masing dari Melaka, Kuala Lumpur, dan Changlun. Lily membawa oleh-oleh kue kering semacam ampyang yang terbuat dari bihun. (Ampyang biasanya dibuat dari beras atau ketan). Selain itu, Lily juga membawa kopi tongkat ali yang terkenal di Malaysia. Konon bisa membuat alat pria menjadi sekuat tongkat. Hm, berani coba?


Kami langsung berangkat makan malam ke Gurney Drive. Di sana empat JS-ers Penang juga telah menunggu: Yanti dan Sasongko (Konsul RI di Penang), serta Anna dan Giovanni Pengue. Menu ’wajib’ di sini adalah asam laksa penang dan rojak pasembur. Tetapi, tentu saja yang kami makan tidak hanya dua jenis menu itu! Kami berpindah-pindah dari satu meja ke meja yang lain untuk mencicipi berbagai makanan dan jajanan yang disajikan.

Esok paginya kami berwisata ke tempat-tempat bersejarah di Penang, resor pantai Batu Ferringhi, shopping di Gurney Plaza, dan makan siang Nasi Kandar ”Pelita” yang merupakan pengalaman baru bagi kebanyakan kami.


Nasi Kandar, seperti pernah saya jelaskan sebelumnya, mirip nasi padang, tetapi lebih cenderung ke masakan mamak (Muslim India). Sebelumnya kami juga sempat mencicipi ais cendul dan ais kacang yang terkenal di dekat gedung Comtar.


Sore hari yang sama kami sudah tiba di Hatyai, Thailand Selatan. Acara makan malam bersama direncanakan pukul sembilan malam, karena warung-warung tenda dekat hotel baru akan buka menjelang toko-toko besar tutup. Kenyataannya, hampir semua sudah kenyang ketika saat makan malam bersama tiba.


Satu rombongan singgah di rumah makan dekat hotel yang menyajikan babi panggang dengan harga sekitar Rp 200 ribu seekor. Murah sekali, dan memang gurih. Di rumah makan ini juga tersedia sapo kaki angsa yang sungguh uenaaak. Jajanan di pinggir jalan yang begitu menggiurkan membuat kami sulit menahan diri.


Alhasil, kami hanya memesan som tam (selada mangga muda – tetapi umumnya dibuat dari pepaya muda) dan sup tom yam kung. Karena sulit berkomunikasi, som tam yang datang pedasnya luar biasa. Untuk ’memadamkan kebakaran’, sebagian kami ’terpaksa’ memesan ketan durian.


Tentu saja, beberapa di antara kami juga sempat menikmati ancient massage yang sangat murah di Hatyai. Untuk dua jam pijat yang menyegarkan, biayanya cuma 240 Baht (sekitar Rp 50 ribu). Padahal, di Bangkok, pijat sahih jenis ini setidaknya 500 Baht per dua jam. Memang harus dua jam. Kalau hanya satu jam, bisa-bisa kita jalannya miring karena yang dipijat baru sebelah.


Paginya, kami berjalan-jalan ke pasar yang tak jauh dari hotel. Kunjungan ke pasar itu merupakan objek wisata yang sangat menarik bagi kami. Ketan lima warna dan berbagai jajanan yang mirip dengan jajanan kita membuat kami ingin mencicipi. Kami juga mampir makan bubur yang sangat enak di sebuah warung dekat hotel. Hmm, akhirnya ’jatah’ makan pagi di hotel tak tersentuh.


Tiga hari berikutnya di Bangkok merupakan hari-hari yang penuh jalan-jalan, makan-makan, dan belanja-belanja. Antara lain kami berkunjung ke Wat Arun, Wat Pho, dan Grand Palace, serta belanja di sekitar Patpong dan Suan Lum Night Bazaar.


Dua puncak pengalaman makan di Bangkok kami alami di restoran fine dining ”Baan Khanitha” dan dinner cruise di atas perahu ”Manohra” (tongkang beras dari kayu yang dikonversi menjadi perahu mewah). Di ”Manohra”, sambil melayari Chao Phraya selama dua setengah jam, kami sampai kekenyangan karena hidangan melimpah yang disajikan.


Di kedua tempat itu kami ’belajar’ makan hidangan pembuka yang tidak pernah kita temukan di restoran Thai di Jakarta maupun di metropolis dunia lainnya. Yaitu daun chapu (semacam daun sirih) yang dipakai untuk membungkus kacang panggang, parutan kasar kelapa panggang, rajangan halus jahe, irisan kecil jeruk nipis, ebi panggang, dan saus manis. Appetizer ini langsung dihidangkan di meja sebelum kami memesan makanan.


Sekalipun di kedua tempat itu kami memperoleh sajian versi ’priyayi’ atau ’internasional’ dari kuliner Thailand, kesempatan untuk mencicipi hidangan versi asli masih banyak kami jumpai selama di Bangkok. Tidak jauh dari hotel, misalnya, terdapat pula sebuah pasar yang membuat kami tak henti-hentinya makan dan ngemil. Maklum, harga-harganya sangat murah. Setusuk sate gemuk – ayam, sapi, atau babi – harganya hanya seribu rupiah. Secangkir kopi khas Thailand hanya dua ribu rupiah.


Hari terakhir di Bangkok, enam orang di antara kami menyempatkan pergi ke Ayuthaya. Yang lain diantar oleh Erwin Luis Jaya, JS-er di Bangkok, belanja ke Pasar Chatuchak, sekaligus mencicipi hidangan Isaan (Thailand Timur Laut) yang khas. Yang paling khas di sini adalah som tam dengan kepiting kecil yang diasinkan (mirip cincalok/mencalok di Pontianak, tetapi dari kepiting kecil).


Hingga mendarat kembali di Jakarta, semua perjalanan berjalan lancar. Semua penerbangan Garuda Indonesia pun punctually on time.

 


Responses

  1. Artikel di blog ini menarik & bagus. Untuk lebih mempopulerkan artikel (berita/video/ foto) ini, Anda bisa mempromosikan di infoGue.com yang akan berguna bagi semua pembaca di tanah air. Telah tersedia plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi dengan instalasi mudah & singkat. Salam Blogger!http://www.infogue.com


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: