Posted by: eureka | May 6, 2008

Dari Miangas Hingga Morotai

Indonesia adalah satu – satunya negara di dunia yang memiliki pulau paling banyak. Jumlah sekitar tujuh belas ribu. Sebagian letaknya berada di daerah paling luar. Berbatasan langsung dengan negara lain dan jangan ditanya, betapa sulit menjangkaunya.

 

Sebagian lagi kecil dan terisolir, namun ternyata menyimpan catatan sejarah dari republik ini. Belum lama ini kami mendatangi pulau – pulau itu dan mereka punya cerita sendiri.

 

Inilah Miangas,…. pulau kecil diujung utara Kepulauan Talaud – Sulawesi Utara yang berbatasan dengan Filipina. Kami bertaruh, hanya segelintir orang yang pernah mengunjungi pulau ini, bisa saja… Termasuk anda.

 

Letaknya yang terpencil, ditambah sarana transportasi yang terbatas, membuat Miangas menjadi objek wisata yang mahal. Bangunan ini hanya bisa ditemui di daerah – daerah perbatasan. Tugu setinggi lima meter ini adalah tanda bahwa Miangas berada paling luar dan berbatasan langsung dengan negara lain.

 

Dari pulau ini ke Davao – Filipina hanya sekitar empat jam, lebih dekat dibandingkan dari Bitung atau Manado. Pulau yang luasnya sekitar tiga kilometer persegi ini dihuni sekitar tujuh ratus jiwa. Sebagian besar mereka hidup sebagai nelayan dan petani kopra.

 

Karena begitu dekatnya, sebagian besar penduduk di sini lebih banyak menjual hasil tangkapan ikannya ke Filipina. Begitu pula sebaliknya barang – barang dari Filipina banyak juga yang di jual di pulau ini.

 

Beginilah kota Miangas. Tidak ada lalu lalang kendaraan seperti di kota besar, sehingga kendaraan bermotor menjadi barang langka.

 

Anda tidak akan tersesat. Jalan di Miangas bisa dihitung dengan jari, sehingga mencari lokasi tertentu tidak sulit asal mau sedikit saja berjalan kaki.

 

Belanda menguasai pulau ini dari tangan Spanyol sekitar tahun 1677. Kemudian Filipina pada tahun 1891 memasukannya Miangas ke dalam peta wilayahnya. Saat itu namanya La Palmas. Indonesia kemudian menggugatnya ke Mahkamah Arbitrase Internasional, sehingga baru pada tanggal 4 April tahun 1928, pulau ini sah menjadi milik Indonesia.

 

Dari pelabuhan Bitung di Sulawesi Utara ke pulau ini sekitar dua puluh jam perjalanan dengan kapal motor. Jarak ini sangat jauh, sehingga penduduk di sini harus membeli dengan mahal barang – barang kebutuhan pokok, seperti beras yang harganya bisa mencapai tujuh ribu rupiah perliter.

 

Harga akan semakin mencekik leher, bila musim ombak besar, sehingga Miangas semakin menjadi terisolir, karena tidak ada satupun kapal motor yang membawa bahan makanan mau merapat ke pulau ini.

 

Menyiasatinya, penduduk di sini biasanya memanfaatkan laluga, sejenis umbi – umbian yang banyak tumbuh di daerah ini. Laluga mirip dengan talas. Ia tumbuh liar di daerah rawa – rawa, sehingga penduduk di pulau ini tidak perlu membelinya.

 

Laluga sebelum dimakan, biasanya direbus lebih dahulu. Seperti nasi…, penduduk di pulau ini biasanya menyantapnya dengan ikan dan kelapa.

 

Seperti itulah miangas. Semakin jauh rupanya kehidupan juga semakin sulit. Kendati begitu, Miangas dan pulau – pulau lain di Talaud bisa membuat anda terpesona. Laut bersih serta hamparan pasir putih yang lembut, akan membuat anda betah berlama – lama tinggal di pulau ini.

 

Selain itu berada di Miangas ada punya cerita tersendiri, yakni pengalaman unik berada di pulau paling terluar di Indonesia. Ada lagi pulau yang tidak kalah indahnya yang masih di Kepulauan Talaud, tidak jauh dari Miangas. Pulau itu kecil dan tidak berpenghuni, namun bisa membuat anda jatuh hati.

 

Sulitnya Menarik Garis Cakrawala

 

Yang paling khas di Kepulauan Talaud, adalah sulitnya menarik garis cakrawala yang membedakan birunya langit dan laut. Daerah ini belum sepenuhnya terbuka ke dunia luar, sehingga sangat jarang wisatawan yang datang kesini. Selain itu untuk berwisata ke lokasi ini, membutuhkan biaya yang besar, karena sarana transportasi yang belum memadai.

 

Ada baiknya, biasanya daerah dimana indutri pariwisata belum tumbuh, pemandangan alamnya masih asri dan alamiah. Dan ini adalah Pulau Lirung, dari pulau ini dengan menggunakan perahu motor, kami akan ke Pulau Sara’a yang jaraknya hanya tepisah sekitar 500 meter saja.

 

Ibarat bus kota, perahu motor adalah kendaraan penting bagi penduduk di kepulauan ini. Namun biaya sewanya cukup mahal. Untuk ke Sara’a kami harus membayar 250 ribu rupiah untuk perjalanan selama lima menit, pulang balik.

 

Inilah Sara’a, pulau kosong yang luasnya hanya sekitar dua kilometer persegi, sedikit lebih kecil dari Miangas. Perjalanan berjam – jam dari Bitung – Miangas, rasanya terhapus ketika tiba di pulau yang eksotis ini.

 

Alam di Sara’a belum tersentuh. Semua masih asri dan perawan. Sampai saat ini belum ada wisatawan asing yang menginjakan kakinya di pulau ini. Sara’a ibarat surga bagi mereka yang menggemari panorama alam pesisir dan bawah laut.

 

Informasi tentang Sara’a masih terbatas, sehingga anda tidak akan mendapatkan gambaran apa – apa tentang pulau ini. Brosur – brosur pariwisata sejauh ini belum banyak memasukan pulau ini sebagai objek wisata.

 

Biasanya yang sering datang ke sini adalah warga sekitar pada hari – hari libur. Mereka membayar 2000 rupiah perorang untuk menikmati lembutnya pasir di pantai ini. Atau para nelayan sekitar yang mencari ikan di perairan ini.

Masih banyak pulau – pulau kosong di kawasan yang memiliki pesona alam yang indah. Namun tentu butuh wktu dan biaya tidak sedikit untuk mengunjunginya.

 

Sara’a dan Miangas sudah cukup. Perjalanan kami yang panjang dari Bitung – Manado terbayar. Sebuah pulau lagi yang akan kami kunjungi dan tidak kalah menariknya. Ia berada jauh di Timur Indonesia, yakni Morotai. Pulau kecil, namun bersejarah.

 

Pulau Kecil Namun Bersejarah

 

Morotai terletak diujung Halmahera, Maluku Utara. Pulau ini perbatasan langsung dengan Filipina dan berada di Samudera Pacifik. Bagi Amerika dan sekutunya pulau ini bersejarah. Pada perang dunia ke II Jenderal Doughlas Mc Carter merebutnya dari Jepang dan menggunakannya pada basis militer untuk pertempuran di Asia Pacifik.

 

Kami mendarat di landasan Pitu strep di Desa Wamama. Satu dari 2 landasan yang masih layak digunakan. Sekutu dahulu membangun 9 landasan, berarti bisa kita bayangkan betapa sibuknya pulau kecil ini pada perang dunia kedua.

 

Dari 9, hanya 2 yang bisa digunakan termasuk yang kami darati saat ini. Pulau ini luasnya sekitar 1800 kilometer persegi. Namun sejak dahulu diperebutkan banyak pihak. Sejak abad ke 16 Morotai menjadi saksi perselisihan antara Sultan Ternate dengan Bhisunaris Portugis. Pulau ini menjadi basis terakhir pasukan Portugis sebelum menarik diri dari Maluku.

 

Jejak masa lalu sebagian masih ada. Gua air kaca ini masih bisa bercerita tentang detik – detik pasukan Amerika menguasai Asia dan Pacifik. Ditempat inilah Doughlas Mc Carter sering menggunakan sebagian tempat untuk mandi pribadinya.

 

Tidak seperti di Kepulauan Talaud, mengunjungi Morotai tidak saja menikmati alam yang masih asri, namun kita akan dibawa ke masa lalu. Dalam perjalanan ke Pulau Sumsum dari Kecamatan Daruba, kita masih bisa menyaksikan bangkai kapal selam milik pasukan Jepang yang karam. Kontras dengan laut yang jernih diperairan ini.

 

Pulau Sumsum sendiri dahulu digunakan sebagai pusat komando dan pertahanan tentara Amerika Serikat. Banker ini membuktikan bagaimana serunya pertempuran ketika pasukan sekutu merebut Morotai dari tentara Jepang.

 

Begitu pula sebaliknya, Jepang mati – matian mempertahankan pulau ini. Gua yang berada di hutan mangruf adalah benteng terakhir pasukan Jepang menahan gempuran pasukan sekutu.

 

Namun sayang kondisinya tidak terawat. Dan Pulau Dodola ini yang tidak jauh dari Pulau Sumsum menjadi tempat wisata bagi pasukan Amerika Serikat.

 

Pasir putih mengelilingi pulau ini dan menjadi penghubung ke Pulau Dodola yang besar. Beristirahat di pantai ini bisa merupakan sejarah suram pulau ini.

 

Kabarnya Jenderal Doughlas Mc Carter sendiri terkesima dengan kecantikan Dodola. Ia sering beristirahat disini untuk melepaskan frustasinya menghadapi kegigihan Jepang mempertahankan dominasinya di Asia Pacifik.

 

Hingga sekarang kecantikan Dodola masih banyak penghuni orang. Setiap akhir pekan cukup banyak wisatawan yang berkunjung kesini. Indonesia memiliki sedikit pulau indah seperti Morotai, dimana kita bisa berlibur sekaligus bernostalgia. Morotai dan gugusan di pulau – pulau di Talaud, hanya sebagian kecil dari 12 pulau yang berada diposisi paling terluar di perairan Indonesia.

 

Masih ada sekitar 90 pulau lain yang menjadi pager betis republik ini. Pulau – pulau ini memang kerap menimbulkan masalah sengketa perbatasan dengan negara lain.

 

Kendati demikian diluar itu Morotai, Talaud serta puluhan pulau – pulau lain yang berada diperairan terluar bisa bercerita banyak tentang Indonesia. Negara ini ternyata bukan hanya Bali dan terorisme. (Irianto Mahani/Sup)


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: