Posted by: eureka | May 5, 2008

Wisata Pulau Sinam Barelang

Deretan rumah tua yang hampir roboh tampak ditutupi tumbuhan merambat, beberapa kapal kayu yang sebagian sudah hancur dimakan usia seolah menggambarkan betapa pahitnya perjuangan pengungsi Vietnam sebelum sampai ke perairan Indonesia.

 

Itulah sepenggal gambaran situasi di Kamp Pengungsi Vietnam Pulau Galang, Batam yang masih kental suasana mistisnya begitu kita memasuki areal seluas kurang lebih 80 hektare di salah satu sisi pulau seluas 125 km2 itu.

 

Kamp pengungsian yang telah ditinggalkan penghuninya sejak delapan tahun lalu itu, tampak berbeda bila dibandingkan dengan keadaannya pada masa 1970-an ketika pengungsi terus berdatangan dari Vietnam, Laos, dan Kamboja.

 

Sekadar untuk menyegarkan ingatan kembali, awal kedatangan arus pengungsi ini dimulai di Kepulauan Natuna pada 1975 ketika terjadi pergolakan politik di Vietnam, Laos dan Kamboja.

 

Berkuasanya rezim komunis di negara itu mengakibatkan ketakutan yang luar biasa dari sebagian penduduknya sehingga melarikan diri adalah satu-satunya pilihan yang harus diambil.

 

Arus pengungsi terus berdatangan ke Natuna dan Pulau Bintan dan berlangsung selama periode 1975-1979, sehingga jumlah pengungsi yang datang telah melebihi jumlah penduduk asli di dua kawasan pulau tersebut.

 

Karena jumlah pengungsi yang terus bertambah, akhirnya United Nation High Commision for Refugee (UNHCR), satu badan tinggi PBB yang menangani pengungsi, bersama pemerintah RI dan TNI AL, berinisiatif mencari sebuah pulau yang akan dijadikan kamp penampungan.

 

Pilihan jatuh ke Pulau Galang atas dasar pertimbangan jarak yang relatif dekat dari Pulau Bintan dan Natuna yang cukup ditempuh dalam waktu kurang dari satu jam pada waktu itu.

 

Kemudian pada 1980, Pulau Galang ditetapkan sebagai kamp penampungan baru dan dimulailah pemindahan besar-besaran pengungsi dari Natuna dan Bintan yang jumlahnya mencapai 50.000 orang yang berasal dari Vietnam, Laos, dan Kamboja.

 

Fasilitas lengkap

Bila melihat sisa peninggalan kamp pengungsian di Pulau Galang yang kini di bawah pembinaan Otorita Batam itu, jelas tergambar betapa fasilitas yang disediakan oleh UNHCR bagi para pengungsi cukup membuat iri kampung yang ada di sekitarnya.

 

Selain jalan-jalan yang sudah teraspal, infrastruktur yang disediakan antara lain pasokan energi listrik bagi kebutuhan rumah sakit, rumah-rumah penampungan, kantor pengawas, dan mesin air, saluran telepon internal kamp, instalasi pengolahan air bersih yang saat itu bisa langsung diminum.

 

Bangunan yang ada di kamp itu antara lain, rumah sakit terlengkap bagi pengungsi, ratusan rumah, ruang karantina, penjara, kantor PBB dan keamanan, gereja, pagoda, bar, ruang pemuda, dan lahan perkuburan.

 

Bahkan rumah sakit yang ada di kamp itu mampu melakukan operasi besar yang lazim dilakukan rumah sakit swasta pada waktu itu.

 

Menurut penuturan Mursidi, ketua perwakilan Otorita Batam di Pulau Galang, kamp penampungan itu selain tempat tinggal para pengungsi juga tempat dilakukan screening atau penyeleksian bagi pengungsi yang akan dikirim ke negara ketiga.

 

“Proses seleksi ini cukup ketat karena selain mengetahui latar belakang, juga para pengungsi yang akan dikirim ke negara ketiga harus menjalani pelatihan dan belajar bahasa negara tujuan,” ujarnya kepada Bisnis pekan lalu.

 

Setelah proses screening ini dilakukan selama periode 1979-1989, total pengungsi yang masih tersisa sebanyak 7.000 orang dari 50.000 orang saat pertama kali kamp ini dibuka. Namun pada akhir 1989, arus pengungsi kembali datang ke Kamp Sinam Pulau Galang sebanyak 20.000 orang lagi.

 

Tragedi

Masa kanak-kanak mungkin jadi masa yang mencekam bagi Hoang Nguyen, seorang mantan pengungsi yang kini menetap di Amerika Serikat. Lahir di sebuah desa di Vietnam Selatan pada 1976, sejak usia sembilan tahun Hoang sudah berpikir keras untuk melarikan diri dari negaranya.

 

Lalu pada 1990, begitu menginjak usia 14 tahun Hoang berhasil melarikan diri meninggalkan orang tua dan kampung halamannya menuju negara baru yang bisa membantunya mengejar cita-cita.

 

Dengan kapal kayu sepanjang tujuh meter, dia bersama 158 orang penduduk Vietnam Selatan lainnya mengarungi ganasnya ombak Laut Cina Selatan selama dua minggu lebih sebelum terdampar di Malaysia.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: