Posted by: eureka | May 5, 2008

Serasa Kembali Ke Masa Lalu Saat Menyusuri Jalanan Laos

Laos kini menjadi negara tujuan wisata, bagi para turis di Asia Tenggara. Mereka yang ingin berganti suasana dari polusi, kemacetan lalu lintas, dan mal yang dipenuhi restoran cepat saji kini berdatangan ke negeri itu.

 

Di sana para pengunjung disambut dengan jalanan berdebu yang dipenuhi para pengendara sepeda, udara yang masih segar, juga kebudayaan yang unik. Menurut Asosiasi Travel Asia Pasifik, selama sepuluh bulan pertama lebih dari sejuta wisatawan berkunjung ke sana. Jumlah ini meningkat 40 persen ketimbang tahun sebelumnya.

 

Laos tergolong sebagai negara miskin dan penduduknya yang kurang dari lima juta orang sangat tergantung pada bidang pariwisata. Seperti yang ditemukan Jofelle Tesorio dalam kunjungannya ke sana, pariwisata membantu melestarikan teknik penenunan yang kuno. Simak laporannya bersama Dahlia Citra.

 

Saya sedang naik sebuah kereta api tua, menuju Nong Khai, timur laut Thailand. Kereta adalah cara yang paling populer dan murah untuk mencapai Vientiane, ibukota Laos. Dari Nong Khai, kami kemudian menyebrangi jembatan persahabatan Thai-Laos. Nantinya para pengunjung bisa meneruskan perjalanan dengan kereta ke ibukota. Jalur kereta api Laos yang panjangnya hanya sekitar tiga kilometer, masih dibangun.

 

Sebuah lagu khas Laos terdengar dari radio, sementara kami berkelana keliling ibukota, Vientiane. Kota ini memiliki karakter yang mengesankan, seperti kembali ke masa lalu. Di jalanan ada berbagai kafe Perancis dan restoran mie khas Vietnam yang bernuansa peninggalan kolonial. Tanda-tanda jalanan di tulis dalam bahasa Laos dan Perancis.

 

Para turis berjalan kaki santai atau naik sepeda diantara warga yang ramah. Di kota itu ada sebuah tempat wisata populer yaitu Museum Tekstil Laos yang dikelola oleh Hansana Sisane. Dia bersama keluarga menjalankan museum yang melestarikan tekstil Laos kuno yang sudah berusia ratusan tahun.

 

Sisane menujukkan salah satu kain dari abad ke-14 yang digunakan dalam upacara keagamaan. Dulu, orang Laos adalah penganut animisme dan hal itu terlihat jelas dalam disain tekstil.

 

Sebagian ada desain burung tapi yang paling sering dibuat adalah gambar naga atau ular air yang sangat dihormati oleh berbagai suku. Para turis kerap membelinya sebagai oleh-oleh.

 

Namun para penenun yang membuat kain seperti ini sudah sangat jarang ditemukan, kata Taykeo Sayavongkamdy, seorang pemilik galeri.

 

“Pola-pola kain diturunkan dari satu generasi ke generasi lainnya. Tapi kadang di kota, pola itu hilang. Di daerah lainnya masih ada penenun yang bagus tapi biaya hidup mereka semakin meningkat. Jadi mereka harus mencari pekerjaan yang lain. Penghasilan penenun di sini hanya mencapai 1,1 juta rupiah perbulan dan ini tidak cukup untuk mereka.”

 

Taykeo mengenakan baju tradisional Laos berlengan panjang yang terbuat dari sutera dan berwarna ungu. Dia juga mengenakan Sinh, rok panjang ikat motif tradisional. Sebagian besar perempuan Laos masih menggunakan pakaian tradisional. Mereka jarang sekali terlihat memakai celana panjang.

 

Dalam ruang tenun, seorang perempuan yang sedang mengandung tengah menyelesaikan pola yang yang rumit khas salah satu suku Laos. Desain yang langka dan sulit mahal harganya.

 

Untuk menyelesaikan satu pola saja membutuhkan waktu satu atau dua bulan. Tekstil yang dibuat di galeri ini, kini diekspor ke Jepang, Perancis, dan Amerika Serikat. Namun kata Taykeo, Laos masih ketinggal ketimbang Thailand.

 

“Mereka sudah sangat bagus dan maju. Mereka sering ke luar negeri dan tahu bagaimana mengenakannya dan warna apa saja yang disukai. Tapi kami, masih di tempat yang terpencil.”

 

Namun perubahan sudah mulai terjadi. Hasana Sinane baru saja membangun sebuah pusat kebudayaan yang baru dan merupakan bagian dari Museum Tekstil Laos. Gedung yang terbuat dari kayu kokoh ini didanai oleh pemerintah Jepang.

 

Di sinilah diadakan workshop musik, kesenian dan masakan khas Laos. Jadi para turis bisa gratis belajar tentang kebudayaan Laos. Laos kini menjadi tempat singgah yang nyaman untuk para wisatawan.

 

Di sanalah mereka bisa berjalan kaki santai di pusat kota, mencicipi makan yang lezat, bertemu dengan orang yang menyenangkan dan membeli segala hal dengan setengah harga ketimbang di Thailand.  


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: