Posted by: eureka | May 4, 2008

Vietnam: Memberontak dengan Pesona

Sejarah dunia telah menawan perhatianku sejak muda. Tidak heran jika saya mengenal negara yang terletak di Peninsula Indocina yang mempesona sekaligus misterius ini melalui film dokumenter Perang Vietnam. Waktu itu partai komunis Vietnam Utara yang memenangkan perang pada tahun 1976. Tidak bisa disalahkan jika terbayang dalam imajinasi anda, barisan tentara komunis sedang berpatroli dan siap menembak siapapun yang cukup tolol untuk menyebabkan masalah.

 

Ada banyak kota di Vietnam yang pantas mendapatkan sedikit kucuran tabungan anda seperti Hanoi, Ho Chi Minh, Hue dan Danang. Tentu saja untuk menjiwai negara seperti ini, paling tepat memulai dari pusat politik dan sosial. Kota itu adalah ibukota Vietnam, Hanoi.

 

Langkah pertamaku menapaki Vietnam dimulai akhir Januari. Ditemani seorang kawan, kami menjajaki negara eksentrik tersebut dengan konsep murah meriah, backpacking. Akomodasi hotel seharga USD20 pun dipesan melalui website, http://www.hotels-in-vietnam.com. Tidak ada perencanaan tentang rute perjalanan yang akan ditempuh, tidak juga memakai jasa biro perjalanan. Kami hanya membawa diri plus modal uang tunai sebesar 2 juta Dong dan beberapa helai pakaian hangat. That’s all. And Vietnam, here we come! 

 

Hari 1

 

Dengan modal tiket pesawat Air Asia, kami berangkat dari terminal LCCT Kuala Lumpur dan tiba di Hanoi Noi Bai International Airport pada pukul 05.30 sore. Kesan pertama ketika turun dari pesawat adalah hembusan angin sejuk ‘selamat datang’ yang membuatku bergidik, sekitar 16 derajat perkiraanku. Noi Bai International Airport, berdasarkan standar dunia, tidak ada yang diistimewakan. Tapi tenang saja, untuk urusan imigrasi dan bagasi tidak repot kok, bagi first time traveler sekalipun.

 

Untung saja, hotel kami menyediakan jasa transportasi taksi gratis dari airport ke hotel. Dan, oh! Ternyata rasanya begitu memuaskan ketika melihat seorang pria Vietnam ceking dengan senyum najis sudah menunggu dengan sebuah kertas bertuliskan nama kami di tangannya. Permulaan yang manis.

 

Hari menyambut malam, perjalanan kami di hari pertama tidak begitu seru. Kecuali si pengemudi taksi yang dari tadi kelihatannya sangat terburu-buru entah mau kemana. Di sini, setir kemudi terdapat di sebelah kiri. Yang unik lagi, semua orang mempraktekkan kebiasaan bermain lampu sorot dan klakson, dan tidak seorang pun yang peduli.

 

Kami tinggal di daerah bernama Old Quarter, pusat kerajinan tangan Vietnam. Bangunan-bangunan bernapaskan sejarah kuno ini berumur kurang lebih dua ribu tahun, berbentuk ruko dan terlihat persis seperti daerah pecinan di Medan. Berlantai empat atau lima, berlorong sempit namun memanjang adalah ciri khasnya. Alasannya? Agar terhindar dari pajak yang katanya dihitung dari ukuran lebar bangunan. Pintar juga!

 

Rata-rata hotel kecil di sekitar Old Quarter menyediakan tempat tidur untuk dua orang dengan kamar mandi yang cukup bersih. Not bad. Dengan membayar sedikit ekstra, anda bisa mendapatkan kamar dengan balkoni yang menyuguhkan pemandangan kota yang semarak.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: