Posted by: eureka | March 17, 2008

Paimo: Petualang Asal Indonesia Melintas “Ouropa”

SETAHUN lalu, tepatnya pada bulan Juni, ia menjelajahi pantai barat Semenanjung Malaysia, lalu menembus ke wilayah Thailand. Bambang Hertadi Mas (46), sosok itu, bukanlah jenis penjelajah backpacking, yang naik turun kendaraan umum dengan ransel bertengger di punggung. Ia pesepeda, atau cyclist, asal Bandung . Perjalanan panjang sejauh 2.100 kilometer itu ia tempuh dalam waktu tiga minggu.

 

Pada Senin (12/7) sekitar pukul 17.00 ini, ia kembali akan memulai kegiatan bersepeda jauh. Kali ini ia membidik Eropa Tengah, dalam suatu rangkaian perjalanan yang ia namai “Transylvania-Alps Cycling Trip 2004”. Kalau pada perjalanan setahun lalu ia pergi bersama seorang rekan sesama pesepeda, Benny Yahya Permana (52), sekarang ia pergi seorang diri. Judul di atas diambil dari penutup salah satu surat elektroniknya kepada Pembaruan. Ia, di kalangan para penjelajah alam di Indonesia, selama ini memang lebih dikenal dengan nama julukan “Paimo”.

 

Nama itu melekat dalam dirinya sejak menginjakkan kaki di bangku Institut Teknologi Bandung di Fakultas Seni Rupa dan Desain. “Gara-gara saya nggak bisa ngomong sebagaimana layaknya teman-teman yang lain, dengan aksen, logat, masih Jawa Timuran, saya dijuluki Paimo,” katanya, dalam percakapan melalui telepon, Jumat (2/7) lalu. Ouropa itu ia maksudkan sebagai pelesetan dari kata Eropa.

 

Ia akan memulai penjelajahannya dari Munich, Jerman, lalu menggenjot sepedanya melintasi Pegunungan Alpen, Pegunungan Karpatia (Carpatii Meridionali), Transylvania Alps, Pegunungan Balkan. Dari Jerman itu, ia akan melintasi negara-negara Austria, Slowakia, Hongaria, Romania, Bulgaria, Yunani, Turki. Ia menjadwalkan mengakhiri perjalanan di Roma, Italia, sebelum kembali pulang ke Indonesia. “Akan bertemu teman, pesepeda, yang memang berasal dari Roma,” ujarnya. Ia berharap, perjalanannya kali ini bisa menjadi sumber inspirasi bagi pesepeda di Indonesia, khususnya di Bandung, untuk selalu meningkatkan kemampuan dan prestasinya dalam olahraga itu. Ia tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya menceritakan kegiatan bersepeda berkembang pesat di Bandung. “Mereka mulai menempuh jarak jauh. Ada yang bersepeda menempuh jarak Bandung – Sumbawa, ada yang merancang perjalanan melintas Pulau Sumatera,” katanya. Dalam perjalanan kali ini, ia akan menghadapi kendala utama cuaca maupun udara dingin di daerah pegunungan-pegunungan di Eropa, serta kontur tanah dan elevasi lintasan yang naik-turun secara ekstrem. Namun, seperti katanya, sebagai seorang penjelajah, justru faktor hambatan semacam itulah yang harus disiasati dan diatasi, supaya kegiatan bisa terlaksana seperti yang diinginkan.

 

Ia memperkirakan jarak tempuh setiap hari untuk jalan kondisi baik sekitar 100 kilometer/hari, sedangkan untuk jalan yang kurang baik ia perkirakan 65 kilometer/ hari. Semua peralatan, termasuk kantong tidur ( sleeping bag ), peralatan masak sederhana, kamera, dan sebagainya, ia kemas rapi. “Beratnya sekitar 25 kilogram,” katanya.

 

Selain merogoh tabungannya, ia mendapatkan dukungan dari Eiger, produsen peralatan petualangan dari Bandung, juga dari produsen botol minum bagi petualang dari Swiss, maskapai penerbangan Thailand, serta beberapa donator. Bambang dilahirkan di Malang, 17 Maret 1958. Sambil menekuni ilmu desain grafis, ia yang pernah setahun kuliah di perkapalan Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya, menggeluti kegiatan di alam terbuka, mulai dari mendaki gunung, pemanjatan tebing, namun sepeda lebih menarik hatinya.

 

Dengan bersepeda ia sudah menjelajah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, selain Pulau Jawa. Ia membuat berita ketika bersama Mamay Sumarna Salim, salah satu tokoh pemanjat tebing dari perhimpunan pemanjat tebing Skygers, bersepeda mendaki Mahameru, gunung tertinggi di Pulau Jawa (3.767 meter di atas permukaan air laut), 1987. Keduanya mencapai puncak pada 25 Mei 1987. Berbekal pengalaman itu, ia, masih bersama Mamay, bersepeda mendaki puncak Kilimanjaro, Uhuru Peak (5.869 meter di atas permukaan air laut) di Tanzania dan Mount Kenya di Kenya, Afrika. Pada tahun yang sama, keduanya melakukan perjalanan bersepeda ke kawasan Pegunungan Himalaya. Dan, pada 1993, ia menjelajah dengan sepedanya sebagian jalur Silk Road dan wilayah tenggara Gurun Gobi dalam kegiatan yang diberi nama The First International Tibetan Plateau Bicycle Rally.

 

Pada 1995, seorang diri ia bersepeda melintasi Benua Australia, menempuh jarak 4.371,9 dari Perth ke Sydney. Daftar kegiatannya terus bertambah sesudah itu. Dua tahun kemudian ia menjelajah dengan sepedanya seorang diri melintasi Singapura, Malaysia, Thailand, Laos, dan Vietnam (Trans South East Asia by Bike). Tentu, bukan hanya bersepeda. Pada tahun 2000 ia ikut dalam kegiatan pendakian gunung Mera peak – Khumbu Himal, di Nepal.

 

Bambang yang meraih gelar sarjana seni rupa pada 1986, sehari-hari dikenal sebagai perancang grafis, terutama aksesoris. Ia mengabadikan nama julukannya dalam barang-barang dagangannya, Le Paimos Collection. “Berdagangnya seperti pedagang asongan,” katanya, merendah. Di samping itu, ia dipercaya menjadi anggota tim ahli dan konsultan teknis Eiger.

 

Di ITB pula ia menemukan jodohnya, Christine, juga perancang grafis. Pasangan itu dikaruniai seorang putri, Sekar Kinanti (21 bulan). Ia memperkirakan perjalanannya kali ini akan memakan waktu satu setengah bulan. Christine hanya memberi syarat untuk “mengurus” ayam-ayam kesayangannya yang sedikitnya berjumlah 30 ekor. “Artinya, saya harus menjualnya. Soalnya tidak ada yang bisa mengurusi selama saya tinggal,” katanya, tertawa. (Suara Pembaruan) 


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: