Posted by: eureka | February 8, 2008

Pelajaran Wisata dari Siem Riep

Bulan lalu, sepulang dari konferensi internasional mengenai Community Fisheries Co-management di Dhaka, Bangladesh, Waridin SE MS PhD dan Prof Dr Indah Susilowati MSc berkunjung ke Angkor Wat di Siem Riep, Kamboja. Berikut catatan perjalanan dua dosen dan peneliti dari Fakultas Ekonomi Undip tersebut.

 

Di Siem Riep, kami menginap di hotel Dela Paix yang berada di pusat kota. Selama dua hari di kota tersebut, kami mengunjungi kawasan purbakala Angkor.

 

Pada hari pertama, kami menyewa sebuah taxi-motor atau remorque-moto, sejenis sepeda motor dengan gerobak gandeng berkapasitas empat penumpang. Rieth, pengemudinya, meminta US$ 6 sebagai ongkos perjalanan ke dan dari Danau Tonle Sap. Itu danau terbesar di Asia dan berhubungan langsung dengan Sungai Mekong.

 

Setelah melintasi kawasan persawahan dan perkampungan nelayan kumuh, sampailah kami di loka tujuan. Untuk ke perkampungan nelayan yang terapung di danau, kami harus membayar ongkos perahu motor sebesar US$ 15 per orang.

 

Ada ratusan rumah di perkampungan terapung itu. Aktivitas penghuninya tak beda dengan aktivitas orang daratan: memasak, mencuci baju, mencari kutu, atau main kartu sambil ngligaHampir semuanya bekerja sebagai nelayan.

 

Di perahu motor, kami lebih banyak berdiam diri. Maklum, kendala bahasa memutus komunikasi lisan kami dengan sang nakhoda. Untuk jaga-jaga, juga ingat bencana kapal di Tanah Air, kami mengenakan jaket pelampung yang memang sudah disediakan.

 

Perahu bergerak mengitari desa terapung. Seperti kebanyakan rumah di pedesaan Kamboja, tempat hunian penduduk di situ terbuat dari kayu yang ditopang ratusan bambu. Banyak dari mereka yang memelihara ternak. Kami menjumpai kandang apung untuk babi, angsa, bebek, atau ayam. Letaknya terpisah di belakang dan diikat dengan rumah utama.

 

Banyak juga yang punya antena parabola. Ada yang membuka toko kelontong, membudidayakan lele dumbo, udang, dan bahkan buaya pada keranjang bambu dan kayu besar serta diletakkan di samping rumah. Tentu saja keranjangnya harus kuat. Kalau tidak, sudah pasti yang dibudidayakan bakal lepas ke perairan.

 

Ada aktivitas bisnis yang menarik. Dengan perahu sopek, anak-anak umur 10-15 tahun menjajakan minuman dan makanan. Mereka mendekati perahu turis asing yang lewat. Sesisir pisang berharga satu dolar, sama seperti harga sekaleng Coca Cola. Setahu kami, harga di pasaran umumnya dipatok

tidak dalam bentuk pecahan. Misalnya, penyemir sepatu yang beroperasi meminta bayaran satu dolar untuk sepasang sepatu.

 

Dua jam kami berputar-putar di danau dan desa terapung sebelum kembali ke darat. Kalau dianalisis, Danau Tonle Sap atau aktivitas masyarakatnya tak terlalu istimewa kalau dibandingkan dengan hal serupa di tempat kita. Kami membayangkan kemungkinan Rawa Pening, Waduk Kedungombo, Waduk Gajahmungkur, dan loka perairan lainnya punya kemanfaatan kenelayanan dan pariwisata secara lebih menguntungkan.

 

Kamboja mampu “menjual” Danau Tonle Sap karena tampaknya didukung berbagai pihak terkait dari kalangan birokrat hingga tukang ojek dan pedagang asongan, dan tentu saja pegiat pariwisata. Pemandu wisata, tukang ojek, juga pedagang asongan menawarkan harga yang relatif wajar. Dan yang lebih penting, mereka tidak memasang tampang sangar atau terkesan memaksa pengunjung.

 

Sebagai negara yang carut-marut oleh ganasnya perang saudara sampai 1980-an, Kamboja perlu berbenah diri termasuk mengandalkan pemasukan dari dompet wisatawan asing yang berkunjung. Cara jitunya antara lain memberikan pelayanan sebaik-baiknya kepada wisatawan, mulai dari pengambil kebijakan di tingkat paling atas sampai para pelaku usaha di lapangan seperti tukang ojek, pengemudi taksi, pengelola hotel sampai pedagang di pasar-pasar tradisional.

 

***

 

PADA hari kedua, kami mengunjungi Angkor Wat. Jarak dari hotel Dela Paix ke loka itu hanya 6 km. Kalau santai berkendara, waktu tempuhnya tak lebih dari 20 menit.

 

Ada beberapa loket penjualan tiket di gerbang kawasan yang disebut Angkor

Archeological ParkTiket masuknya US$ 20 per orang per hari. Kalau mau 3 hari, harganya US$ 40 dan tiket terusan seminggu US$ 60. Taman tersebut dibuka setiap hari dari jam 05.00 hingga 17.00 waktu setempat (sama dengan WIB-Red). Pengelolaan tiket dilakukan oleh Sokimex, sebuah perusahaan perminyakan Kamboja. 15 persen dari hasil penerimaannya diserahkan ke otoritas administrasi kompleks candi, 10 persen ke Apsara Authority (badan yang mengurusi konservasi dan proteksi situs atau kawasan candi), dan 75 persen disetorkan ke Kementerian Keuangan.

 

Di Taman Arkeologi Angkor itu tak hanya ada Candi Angkor yang legendaris,

tetapi ada juga bekas pusat pemerintahan Angkor Thom dan Bayon, Preah Khan, Phnom Bakheng, Ta Phrom, dan banyak lagi lainnya. Wajar saja kalau kita harus membayar tiket yang cukup mahal. Sebab, kunjungan tak hanya ke Angkor Wat, tetapi juga ke beberapa candi di kawasan tersebut.

 

Memang, letak candi-candinya agak berjauhan. Tapi perjalanan tak bakal membosankan. Sebab, rutenya melalui jalan beraspal bagus selebar 6-8 meter dengan pepohonan tinggi nan rimbun.

 

Ada banyak pohon berusia tua seperti spung (tetrameles nudiflora), bangkeou damrey (aglaia spectabilis), sralao (lager stroemia calyculata), dan choeuteal (dipterocarpus alatus). Eit, banyak pula pohon siwalan tumbuh subur di situ.

 

Perlu disimak, Candi Angkor pernah menjadi ibukota Kerajaan Khmer kuno yang punya wilayah dari Burma hingga Vietnam. Periode kerajaan Hindu kuno ini -yang kemudian beralih ke kerajaan Buddha- berkisar dari tahun 802 sampai 1432 M. Jayavarman II merupakan pendiri dinasti dan sekaligus raja

pertama yang memerintah tahun 802-850.

 

Entah benar atau tidak, Jayavarman adalah seorang pangeran pemberontak dari Nusantara yang lari dan mendirikan kerajaan baru di Khmer. Dia mengukuhkan dirinya sebagai devaraja (Raja Dewa).

 

Selama beberapa abad kejayaannya, konon ada 10 raja Angkor yang terkenal. Selain Jayavarman II, ada Indravarman I (877-899) yang membangun bendungan air seluas 7 km persegi dan sistem irigasi yang baik (sampai sekarang masih berfungsi). Ada Yasovarman (889-910) yang memindahkan ibukota ke Angkor dan membangun candi Phom Bakheng di atas bukit tinggi. Dari atas candi inilah, para wisatawan dapat menikmati sunset sambil memandangi Angkor Wat di antara rimbunan pohon atau danau Tonle Sap.

 

Raja terpopuler lainnya adalah Suryavarman I (1002-1049) yang berhasil memperluas wilayah kekuasaan kerajaan. Angkor Wat yang legendaris dibangun selama pemerintahan raja Suryavarman II (1112-1152). Dari seluruh raja, yang paling populer adalah Jayavarman VII (1181-1219). Dialah yang disebut the king of Khmer’s king atau Raja Diraja Khmer. Dia berhasil membangun Angkor Thom, Preah Khan, dan Ta Prohm.

 

Angkor Thom -pusat pemerintahan kerajaan yang dikelilingi pagar batu kokoh- adalah ikon kedua yang paling diminati para wisatawan setelah Angkor Wat. Kerajaan Angkor disebutkan pernah memiliki penduduk sampai satu juta jiwa pada 10 abad yang lalu. Sebagai bandingan, penduduk London pada masa itu ditaksir hanya sekitar 50 ribu jiwa. Raja-raja yang tidak tegas dan memble, juga kekisruhan demi kekisuhan termasuk intrik-intrik di seputar pusat kekuasaan membuat banyak penduduk kerajaan hijrah ke tempat lain yang sekarang termasuk dalam wilayah Thailand dan Vietnam, dan bahkan sampai ke Malaysia dan Indonesia.

 

Konon, semua hal itu sempat menyurutkan pamor Angkor. Kenyataannya, Angkor kini moncer lagi, khususnya di bidang wisata kepurbakalaan. Itu bukti sebuah upaya pemanfaatan potensi wisata yang bagus.

 

 Kalau Siem Riep diuntungkan dari danau yang biasa menjadi lokawisata istimewa dan kelegendarisan Candi Angkor, kita yang notabene punya lebih banyak potensi serupa, seharusnya bisa lebih “beruntung”. Nah, dalam kapasitas tertentu, ada pelajaran wisata yang bisa dipetik dari kota tersebut.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: