Posted by: eureka | May 13, 2007

Sulit Mendapat Visa, Bukan Berarti Bencana

DAMPAK serangan teroris 11 September 2001 yang meluluhlantakkan World Trade  Center (WTC) di New York Amerika Serikat (AS), sangat dirasakan industri pariwisata dunia. Jumlah kunjungan wisatawan ke AS menurun drastis. Sebaliknya pengeluaran visa oleh Kedutaan Besar AS pun diperketat. Langkah pengetatan visa juga dilakukan Australia dan beberapa negara Eropa Barat. Beberapa negara yang sebelumnya sangat gampang mengeluarkan visa untuk wisatawan asal Indonesia, sekarang ikut-ikutan sangat ketat mengeluarkan visa seperti Belanda, Perancis, dan Italia. Bukan hanya untuk wisatawan perorangan, namun wisatawan rombongan yang berangkat bersama biro perjalanan juga sering dibuat kelabakan.

 

Bahkan ada kesan sekarang ini, beberapa kedutaan besar terkesan “mempersulit” pengeluaran visa. Misalnya, wisatawan yang dijadwalkan berangkat tanggal 15 April dan tiket pesawat sudah ditangan, ternyata pihak kedutaan besar mengeluarkan jadwal wawancara untuk mendapatkan visa tanggal 17 April.

 

Kerap pula terjadi, di antara rombongan keluarga istri mendapatkan visa, sedangkan suami tidak mendapatkan visa dengan alasan yang tidak jelas, bahkan tak masuk akal. Parahnya, banyak wisatawan yang tidak mengerti dan selalu menyalahkan biro perjalanan ketika visa tidak diperoleh.

 

“Padahal, kewenangan memberikan visa sepenuhnya ada pada kedutaan besar,” kata seorang tour leader yang merasakan betul perubahan sikap beberapa kedutaan besar, setelah terjadinya peristiwa 11 September 2001. Tidak heran jika kemudian kunjungan wisatawan ke AS dan beberapa negara Eropa Barat, turun lebih dari 30 persen dari tahun-tahun sebelumnya.

 

Untuk kunjungan wisata ke AS saja, sebuah biro perjalanan terkemuka rata-rata memberangkatkan sekitar 15-20 grup setiap tahun, sebelum terjadi peristiwa 11 September 2001. Setiap grup umumnya terdiri atas 30-35 orang wisatawan, sehingga jumlah wisatawan yang berangkat ke negeri George W Bush itu, sedikitnya 600 orang setahun. Namun, sejak akhir 2001 lalu hingga sekarang pertengahan 2002, jumlah wisatawan yang berangkat ke AS menurun drastis menjadi cuma dua grup dan masing-masing grup 18 orang atau jumlah semuanya cuma 36 wisatawan!

 

Penurunan ini bukan semata-mata banyaknya visa yang ditolak, tetapi wisatawan tak sabar dengan ulah bertele-tele yang ditunjukkan petugas di kedutaan besar. Maklum saja, wisatawan mau berlibur dan memanjakan diri dengan mengunjungi berbagai obyek wisata, tetapi belum apa-apa malahan sudah dipersulit. Mereka yang merasa tidak sabar, kemudian membatalkan atau mengalihkan tujuan wisatanya dengan mengunjungi obyek wisata di luar AS dan negara Eropa Barat.

 

Kalaupun tetap ingin mengunjungi AS dan Eropa, dianjurkan wisatawan mengajukan permohonan visa jauh-jauh hari sebelumnya, paling lambat sebulan sebelum keberangkatan. Maklum saja, ulah sebagian wisatawan Indonesia belum berubah, rencana berwisata dilakukan dadakan dan mengurus visa hanya beberapa hari sebelum hari keberangkatan.

 

“Jika diurus jauh-jauh hari sebelumnya, kita bisa membantu dengan memberi berbagai penjelasan. Sejauh ini bagi kami, soal sulitnya mendapatkan visa ke Eropa Barat dan Amerika baru taraf merepotkan, tetapi belum sampai mem batalkan rencana perjalanan wisatawan apalagi mengurangi market Anta Tour,” kata Edwin Tjahjadi Widjaja dari Anta Tour.

 

 

***

SULITNYA mendapatkan visa untuk tujuan AS dan Eropa Barat, bagi sejumlah biro perjalanan yang kreatif justru merupakan suatu tantangan. Mereka melakukan berbagai terobosan dengan membuat paket wisata baru dengan beragam keunggulan.

 

Agen Perjalanan Bayu Buana, misalnya, menawarkan paket wisata yang sebelumnya tidak pernah ada semacam ke Estonia, Uzbekistan, Kazakstan dan beberapa negara lain di bekas wilayah Uni Sovyet dulu. Selain persoalan visa tidak terlampau bertele-tele, negara-negara di Eropa Timur tersebut memiliki keunikan dan kekhasan wisata tersendiri.

 

“Karena itu tidak heran, peminat paket wisata ini cukup banyak. Boleh jadi karena wisatawan ingin mendapat wawasan dan pengalaman baru,” kata Bernard Kurniawan, Assistant Tour Manager Bayu Buana.

 

Anta Tour yang merupakan biro perjalanan wisata tertua di Indonesia dengan

pengalaman 31 tahun, bahkan menjadikan Eropa Timur sebagai tujuan wisata utama sedangkan negara-negara Eropa Barat sebagai tujuan pendamping.

 

Tujuan wisata ke Budapest (Hungaria), Prague, Krakow, dan Warsawa (Polandia) serta Berlin, yang sebelumnya tidak pernah dikelola, sekarang justru menjadi salah satu sasaran utama. Begitu pun kunjungan wisata ke Rusia dan Skandinavia yang sebelumnya dilirik sebelah mata, kini menjadi salah satu andalan. Maklum saja, obyek wisata yang ditawarkan di negara Eropa Timur tersebut, mempunyai keunikan tersendiri serta penuh pesona.

 

Di St Petersburg, misalnya, bisa disaksikan istana musim dingin yang sangat

 megah dan sekarang menjadi museum seni lukis terbesar di dunia. Begitupun di Helsinki, wisatawan bisa mengunjungi Temple Liaukio, sebuah gereja unik yang dibangun di dalam batu karang, serta beragam obyek wisata lainnya yang masing-masing memiliki keunikan tersendiri.

 

Sedangkan sarana transportasi yang digunakan selama wisata di Eropa Timur tersebut sangat beragam. Selain pesawat dan bus, digunakan pula kereta api khas Eropa Timur, feri dan bahkan wisatawan diajak bermalam di atas kapal pesiar dalam melakukan perjalanan.

 

“Boleh jadi karena keunikan ini, minat wisatawan untuk berkunjung ke negara

-negara Eropa Timur, Rusia dan Skandinavia cukup tinggi,” kata Edwin Tjah

jadi Widjaja, outbound tour leader Anta Tour.

 

 

***

BUKAN hanya Eropa Timur yang menjadi sasaran utama wisatawan pasca serangan 11 September 2001. Negara-negara di kawasan Asia, Amerika Latin serta Afrika Selatan, juga semakin diminati banyak wisatawan.20

 

Di Asia, negara-negara seperti Cina, Thailand, Taiwan, Malaysia dan Singapura sudah lama menjadi tujuan favorit wisatawan asal Indonesia. Untuk Cina bahkan hampir semua biro perjalanan membuat paket kunjungan wisata, karena memang peminatnya cukup banyak.

 

Avia Tour, salah satu biro perjalanan terkemuka, misalnya, sampai menyediakan sekitar sepuluh paket wisata ke Cina yang masing-masing memiliki obyek wisata unggulan, serta keunikan tersendiri. Pemerintah Cina juga terus menata dan mempromosikan obyek wisata baru untuk menarik jumlah wisatawan, termasuk bendungan Dujiangyan yang berumur 2.250 tahun di Chengdu, Ibukota Propinsi Sichuan yang baru dikunjungi Presiden Megawati April lalu.

 

“Karena tingginya minat wisatawan ke Cina, kami terus memperbarui paket-paket kunjungan wisata ke Cina termasuk yang terbaru ke Chengdu,” kata Eddy Effendy, Direktur Operasional Biro Perjalanan Wisata Avia Tour.

 

Tidak dapat dipungkiri, Pemerintah China memang ingin merebut sebanyak-banyaknya wisatawan yang sulit masuk ke AS atau Eropa Barat, sehingga berbagai kemudahan dilakukan termasuk memberikan tiket murah untuk masuk obyek wisata, tarif hotel dan penerbangan.

 

“Strategi ini berhasil, buktinya wisatawan ke Cina selalu melimpah,” kata Tom Mc Ifle, Manajer Penjualan dan Pemasaran Panorama Tours.

 

Namun, bukan hanya Cina yang ingin merebut peluang dari limpasan wisatawan yang gagal ke AS atau Eropa Barat tersebut. Srilangka juga termasuk negara yang sangat menggebu-gebu dalam menarik wisatawan asal Indonesia, untuk berkunjung ke “Negeri Ramayana” tersebut. Saking antusiasnya, pengelola pariwisata dengan dukungan pemerintah setempat, mengenakan tarif yang sangat murah dan bahkan terkesan tak masuk akal baik untuk tiket pesawat, hotel maupun akomodasi lainnya.

 

Bayangkan saja untuk paket wisata ke Sri Lanka selama lima hari, hanya dikenakan tarif 808 dollar AS untuk berdua, atau 404 dollar AS (sekitar Rp 3,75 juta seorang). Tarif ini sudah termasuk tiket pesawat pergi pulang, menginap lima hari di hotel berbintang, makan tiga kali di hotel dan tiket masuk obyek wisata.

 

Obyek wisata yang ditawarkan juga cukup beragam. Selain mengunjungi candi-candi tua yang menjadi ciri khas Sri Lanka, wisatawan juga diajak naik gajah, berbelanja batu-batu kecubung dan bahkan berlian dengan kualitas nomor satu di dunia.

 

“Harga yang murah ini tentu saja menarik wisatawan dan pasti tidak terlepas dari peran serta pemerintahnya,” kata Nurdin Supena, Incentive Tour Manager Biro Perjalanan Bayu Buana.

 

 

***

SELAIN mengalihkan tujuan wisata ke negara-negara Eropa Timur dan Asia, sejumlah biro perjalanan yang kreatif melakukan terobosan, mengajak wisatawan berkunjung ke kawasan Amerika Latin.

 

Calyba Tour, misalnya, yang selama ini sangat berpengalaman mengelola wisatawan ke Amerika Latin, semakin giat mengajak wisatawan berkunjung ke selatan Benua Amerika tersebut. Selain menawarkan seni budaya Amerika Latin yang memang sangat khas, ditampilkan pula panorama alam yang terkenal indah. Jadilah kemudian paket wisata dengan mengunjungi Brazil, Argentina dan Chile, tetapi singgah dulu di Perancis. Ditawarkan pula Calyba Canadian Rockies dengan mengunjungi berbagai tempat wisata alam, budaya dan belanja di Canada.

 

Sebagian biro perjalanan lainnya, mensiasati sulitnya mendapatkan visa ke AS dan Eropa Barat dengan paket wisata menggunakan pola baru. Obyek wisata yang dikunjungi jumlahnya tidak terlampau banyak, tetapi wisatawan bisa menikmati obyek wisata tersebut sepuas-puasnya. Ini disebabkan waktu kunjungan ke setiap obyek wisata cukup lama, tidak cuma beberapa menit seperti yang banyak terjadi selama ini.

 

“Paket wisata ini pun peminatnya cukup banyak, karena wisatawan bisa menikmati obyek wisata secara lebih mendalam dan tidak terburu-buru,” kata Bernard Kurniawan, Asistant Tour Manager Biro Perjalanan Bayu Buana.

 

Pendeknya, hambatan mendapatkan visa dari sejumlah negara, bagi biro perjalanan wisata yang kreatif bukanlah berarti bencana. Justru hambatan tersebut menjadi tantangan, sekaligus peluang untuk mengajak wisatawan mengunjungi obyek-obyek wisata baru. (Try Harijono/R Badil)

 


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: